Minggu, 24 Maret 2019

TOKO FAVORIT PR (VERSI SAYA)

Hasil gambar untuk Foto Ivy Ledbetter Lee

Ivy Ledbetter Lee


Ivy Ledbetter Lee, lulusan dari Princeton, adalah wartawan yang meliput dunia bisnis. Setelah lima tahun menjadi wartawan, pada tahun 1903 Lee berhenti dari pekerjaannya yang bergaji kecil di World untuk bekerja pada kampanye Seth Low menjadi walikota New York. Pekerjaan itu menuntunnya bekerja sama dengan George F. Parker di bidang biro pers bagi Komite Nasional Demokrat selama kampanye Presiden 1904 (Cutlip, Center & Broom, 2005: 96).

Lee dan Parker sempat membentuk kemitraan the Parker and Lee, yang ditutup pada tahun 1908, karena Ivy Lee menjadi agen publisitas pertama bagi Jawatan Kereta Api Pensylvania.
Lee, sewaktu dipekerjakan George F. Bear pada kasus pemogokan batubara anthracide (yang sulit panas) tahun 1906, menerbitkan "Deklarasi Prinsip-prinsip" yang dikatakan oleh Eric Golfman bahwa deklarasi ini "menandai kemunculan kehumasan tahap kedua. Publik tidak lagi diabaikan pada cara bisnis tradisional, tidak pula dibodohi pada cara agen pers yang tetap berlangsung hingga sekarang."

Deklarasi Lee lalu dikirimkan melalui pos ke seluruh editor kota, yang bunyinya sebagai berikut:
”Ini bukan biro pers rahasia. Seluruh pekerjaan kami dilakukan dalam suasana keterbukaan. Tujuan kami memasok berita. Ini bukan agen periklanan; jika anda pikir jenis tulisan ini harus secara tepat masuk ke kantor anda, jangan gunakan tulisan itu. Tulisan kami akurat. Rincian lebih lanjut atas pokok bahasan apa saja yang dibahas akan disediakan dengan segera, dan editor siapa saja akan dibantu dengan sangat gembira, guna memverifikasi secara langsung pernyataan fakta apa saja ... Ringkas kata, secara sopan dan terbuka, atas nama permasalahan dunia bisnis dan lembaga publik, rencana kami adalah memasok ke pers dan publik Amerika Serikat informasi yang cepat dan akurat mengenai pokok masalah yang dianggap bernilai dan menarik perhatian publik untuk mengetahuinya.”

Meskipun para wartawan diijinkan meliput pemogokan tersebut, Lee memberikan laporan baru setelah dilakukan rapat pemogokan. Lee adalah salah seorang yang pertama menggunakan sistem handout (sekarang dinamakan press release atau news release) dalam skala besar.
Selama periode ini, Lee menggunakan istilah "publisitas" untuk menggambarkan apa yang sekarang dinamakan hubungan masyarakat atau PR; konsep itu dan kesuksesan Lee tumbuh cepat. Pada December 1914, berdasarkan saran Arthur Brisbane, Lee dipilih sebagai penasihat pribadi John D. Rockefeller Jr. Kelompok Rockefellers sedang diserang keras karena kegiatan tetap-bekerja pada saat terjadi pemogokan pada Colorado Fuel dan Iron Company milik mereka. Lee melayani Rockefeller hingga kematiannya pada 1934.

Ivy Lee melakukan banyak pekerjaaan yang menjadi pekerjaan dasar praktek kontemporer. Meskipun dia tidak menggunakan istilah PR hingga setidaknya 1919, Lee menyumbangkan banyak teknik dan prinsip yang diikuti oleh para praktisi sekarang.

Lee mendorong pertumbuhan departemen publisitas dan melatih penasihat publisitas di banyak lembaga. Selama 31 tahun dia berkecimpung di bidang kehumasan. Lee mengubah lingkup atas bidang yang dikerjakannnya dari "keagenan murni" ke menjadi "pemikir yang dipercaya untuk diajak bekerja sama oleh dunia bisnis."

Rekor Lee, meskipun sangat besar, tidak bebas dari kritik. Sewaktu dia meninggal, dia diberhentikan dari pekerjaan sebagai perwakilan the German Dye Trust, yang dikendalikan oleh I. G. Farben. Lee menjadi penasihat kartel itu setelah Adolf Hitler berkuasa di Jerman dan Nazi mengambil alih kendali. Lee dibayar fee tahunan $25.000 dan ganti atas pengeluaran (jumlah yang besar pada saat itu) oleh perusahaan Farben dari ketika dia pensiun pada 1933 hingga perusahaannya menghentikan pelanggan itu segera setelah kematiannya pada 1934.

PEMBUKAAN S2 ILMU KOMUNIKASI STISIPOL CANDRADIMUKA




BERITA PERS

PEMBUKAAN PASCASARJANA ILMUKOMUNIKASI CANDRADIMUKA PALEMBANG

            Palembang, 15 Maret 2019 – STISIPOL Candra dimuka kembali meluncurkan program pascasarjana dengan jurusan Ilmu Komunikasi. STISIPOL memang butuh pengembangan ilmu  komunikasi dari tahun 1967. Dosen-dosen selalu berinsiatif dan termotivasi untuk mengembangkan kampus STISIPOL Candradimuka.
            Siapa saja yang memiliki ijazah S1 atau D4 (setara S1) semua bidang ilmu ari perguruan tinggi,swasta dan luar negri dapat mendaftar sebagai calon mahasiswa Program Studi S2 Ilmu Komunikasi. Tapi, asalkan Perguruan tinggi negri atau swasta dan luar negri itu sendiri terakreditasi KEMRISTEKDIKTI.
            Program pascasarjana Studi S2 Ilmu Komunikasi itu sendiri, tidak di batasi oleh usia, agama dan suku bangsa.
“Untuk launching S2 itu sendiri pada tanggal 23 Maret 2019 di kampus STISIPOL Candradimuka. Itu akan di hadiri oleh media lokal dan media online, sekitar dua puluh media akan datang di undang untuk menyaksikan launching S2 Program Ilmu Komunikasi. Media online juga bisa memanfaatkan untuk menjadi media promosi di instagram yang salah satunya palembang terkini. Dan media surat kabar, atau internet lainnya. Untuk pendaftaran pertama ada potongan, bagi alumni STISIPOL Candradimuka mendapatkan potongan lumayan besar. Kemudian untuk sarjana baru, fresh graduate dari kampus manapun mendaptkan potongan, tapi untuk maksimal satu tahun kelulusan langsung daftar bisa mendapatkan potongan atau diskon. Mahasiswa berperstasi sendiri sudah di pertimbangkan sebesar apa, seluas apa juara yang mereka dapatkan. Jika juaranya biasa saja tidak mendaptkan potongan. Tapi, untuk juara nasional akan mendapatkan potongan harga dalam pendaftaran.” Ujar Bapak Budi Santoso, S.Sos., M.Comn selaku dosen dan juga pembantu III pimpinan STISIPOL Candradimuka.
 Masa studi dan gelar di kampus STISIPOL Candradimuka itu sendiri selama dua tahun (empat semester). Dan bergeelar Magister Ilmu Komunikasi (M.I.Kom). Sedangkan konsentrasi program studi itu sendiri lebih ke Komunikasi politik dan corporate & marketing communication.
            Fasilitas yang ada di STISIPOL Candradimuka yaitu:
-          Perpustakaan
-          Ruang kelas dengan sistem multimedia
-          Ruang baca dengan free wifi dan coffee
-          Musholla
-          Aula pertemuan luas
            Waktu perkulihan itu sendiri terbagi menjadi:
-          Kelas reguler pagi: Rabu & Kamis pukul 08.00WIB- selesai
-          Kelas reguler sore: Rabu & Kamis pukul 16.30 WIB- selesai
-          Kelas non-reguler: Sabtu pukul 08.00WIB- selesai

Perkulihan sendiri terbagi menjadi:
Gelombang I
·         Matrikulasi: September 2019
·         Kuliah perdana/umum: Oktober 2019
Gelombang II
·         Matrikulasi: Februari 2020
·         Kuliah perdana/umum: Maret 2020
            Masa studi dan gelar di kampus STISIPOL Candradimuka itu sendiri selama dua tahun (empat semester). Dan bergeelar Magister Ilmu Komunikasi (M.I.Kom)           
            Waktu perkulihan itu sendiri di bagi menjadi tiga yaitu pagi, sore dan non-reguler. Saat menunggu launching S2 Program Studi Ilmu Komunikasi sudah banyak sekali yang menunggu untuk menjadi bagian dari mahasiswa kampus STISIPOLCandradimuka.
Terimakasih.

Sabtu, 23 Maret 2019

PERSONAL BRANDING (Mem-PR-kan diri sendiri)


Mungkin setiap manusia jika menceritakan tentang dirinya sendiri sangat kebingungan, karena yang mempunyai diri saja tidak tahu bagaimana sifat diri sendiri yang terkadnag berubah-ubah dan terkadang menetap dengan satu sifat.
Seperti di semester satu kemarin, mendreskripsikan diri sendiri. Bagi saya pribadi mendeskripsikan diri saya sendiri adala sesuatu hal yang amat susah, karena otak perlu untuk di putar agar tidak terlalu menjatuhkan diri atau menaikkan diri sendiri.

 Oke di mulai
Nama panjangku Hafazhatilmadani, mungkin seluruh orang susah sekali menyebut nama panjangku ini. Dan hanya orang terdekatku atau yang sering membagikan absen bisa pasif menyebut namaku. Aku lahir di Jambi 19 tahun yang lalu. Tepat pada tanggal 23 Juli 1999. Yah 2019 ini aku berusia 20 tahun, tapi belum karena ini masih bulan Maret hehe. Aku suka makan pedas, sangat suka coklat dan benci dengan orang yang menyebar finah. Ohya, kalian belum mengenal nama panggilan ku. Tilma itu nama panggilanku sejak kecil, dan kalau sudah besar ini di panggil Hafa. Tapi aku lebih nyaman di panggil Tilma sih karena lebih enak aja wkwk.

Sejak duduk di bangku kelas satu SMP aku sudah sangat suka dengan dunia kepenulisan. Tapi waktu itu aku hanya kenal dengan menulis cerpen dan puisi saja. Belum sampai mengenal tulisan jurnal, berita atau preas relleas. Aku selalu menang dalam lomba menulis cerpen dan cerpen-cerpenku juga sering sekali muncul di situs web kumpulan khusus cerpen. Ada juga sih aku blog pribadi khusus cerpen. Tapi, setelah aku masuk SMK kegiatan menulisku aku kurangi aku lebih fokus pada ekskul di sekolah, seperti paskibra dan latihan kepempinan siswa. Aku itu orangnya suka banget mimpin dan aku itu nggk suka di belakang layar jadi kalo aku pemalu itu bukan aku banget karena aku malu-maluin wkwk.

Dan lulus dari SMK aku masuk dunia kerja karena tidak lulus dalam mengikuti seleksi langsung masuk perguruan tinggi negri. Satu tahun aku di dunia kerja dan disitu aku mulai bosan karena perempuan juga layak mendapat pendidikan tinggi. Jadi untuk apa kerja cari uang tapi otak nggak ada isi, itu sih menurutku.

Jadi aku masuk dalam dunia kampus juga ternyata. Aku masuk STISIPOL Candradimuka Palembang. Dan aku mengambil prodi Komunikasi, simpel alasanku mengambil itu, karena aku aktif dalam berbicara. Jadi yah cocok bagiku di dunia sekarang.

Dan sekarang aku menjalani aktifitas kerja sambil kuliah, kerja di hari kuliah aku masuk siang dan kalo nggk kuliah aku masuk pagi saat kerja.

Itu aja sih perkenalan dari aku.


TABLE MANNER DI HOTEL HARPER PALEMBANG


Sedikit bercerita pada saat table manner di hari kamis waktu itu

Sesuai dengan jurusan saya, komunikasi yahhh kami belajar bagaimana cara berkomunikasi dengan baik, berbicara dengan bagus, bahkan makan dengan cantik bukan kebiasaan di rumah yang selalu di bawa pada saat bertemu dengan orang penting.

Di table manner di ajarkan bagaimana cara memegang sendok dan garpu dengan benar. Di table manner sendiri juga diajarkan cara menggunakan pisau makan.

Definisi tentang table manner sindiri:
ETIQUETTE : Dari bahasa perancis yang bearti sopan santun yang berlaku dalam suatu jamuan makan.

Manfaat table manner
yaitu, untuk mengetahui cara makan dan cara minum yang baik dan benar sehingga dapat mengangkat harkat dan martabat diri seseorang dan juga untuk mengetahui tata cara pergaulan internasional dalam area perjalanan khusus.

Hal-hal yang perlu diperhatikan
1. Cara duduk
2. Cara memakai serbet kain atau kertas
3. Cara makan dan minum
4. Cara memegang garpu, sendok, dan pisau
5. Cara meminum di sudut cangkir yang benar

Ohya aku mau kasih tau kalian nih menu-menu table manner kami kemarin, yang menurutku nggak enak. Karena yah kami biasa makan. makanan pokok bukan makanan begitu hehe

Appetizer
Fruit salad with avocado 
mixes of fruit's with honey mayonnaise dressing

Soup
seafood chowder
Traditional seafood cream soup served with crouton

Main course
Grilled chicken breast 
Chicken with vegetable, baked potato, served with mushroom sauce

Dessert
Tiramisu cake almode, served with strawbery sauce 

REVIEW BUKU PR

Hasil gambar untuk GAMBAR BUKU MANAJEMEN PUBLIK RELATIONS'

BUKU MANAJEMEN PUBLIC RELATIONS DAN MEDIA KOMUNIKASI

Sebelumnya saya mau beritahu dulu, saya membeli buku ini di Gramedia tercinta. Saya cinta karena saya bekerja disana wkwk. 

Buku ini lebih membahsa tentang Humas pada PR
berdasarkan referensi dari buku yang saya beli ini, tidak semua halam saya baca. Tapi beberapa saya baca untuk kepentingan mata kuliah Public Relations sendiri. 

Lebih ke majaemen dan yang menarik pada manajemen ini yaitu metode komunikasi dan kelembagaan humas 

lalu dari buku ini juga banyak istilah-istilah baru yang saya terima, selama kuliah mungkin hanya sedikit dosen yang mengajarkan tentang PR. 

Benar kata pepatah, membacalah maka jalanmu akan terang. 

dan buku yang saya baca ini, membuat pengetahuan baru tentang PR itu senidir sesuai dengan jurusan saya Komunikasi.

SEMINAR KPU - RRI

SEMINAR KPU - RRI

Di stisipol candradimuka waktu itu diadakan seminar tentang komisi pemilihan umum. yang di selengarakan oleh Radio Republim Indonesia

Tahun 2019 ini, menjadi tahun politik karena seluruh caleg, dan capres pun harus kita pilih dengan detail.
Jangan salah pilih, ingatlah pilihan kalian dan jangan pernah untuk meilih yang hanya berkata-kata bukan berindak

SEMINAR BROADCASTING RADIO ELSHINTA



Hallo balik lagi!!!
Sama aku HAFAZHATILMADANI

Kalian pasti nanyain kan kenapa aku ngepost foto itu, yahhh aku jawab yahhh
karena waktu itu lagi ada seminar interaktif  broadcasting bersama radio Elshinta. Yang di selenggarakan pada tanggal 12 Februari 2019. Bukan cuma seminar ada juga lomba yaitu lomba baca berita dan vlog.

Itu sekaligus merayakan HUT Radio Elshinta Palembang yang ke 19tahun.

Sudah pasti di tebak bukan itu foto bersama dengan anak Himakom atau Himpunan Mahasiswa Komunikasi. dan yang pakek baju putih itu adalah dosen tervafooooo banget deh!!!!

Sedikit cerita deh, aku kan anak komunikasi nih yahhh, aku itu kuliah sambil kerja jadi susah banget bagi waktu untuk ikutin kegiatan atau jadi mahasiswa aktif jadi yah ke aktifan aku ini aku sumbangkan dengan cara aku selalu ikut seminar-seminar lumayan menambah wawasan dan juga ilmu kan. Tapi nggak kemungkinan kecil juga, aku temenan sama anak-anak yang aktif banget, mereka suka menang juara lomban. Dan mereka juga baik-baik kok.

Terus juga dari seminar broadcasting kemarin itu, aku jadi paham dunia di balik layar atau dunia penyiaran, maklum aku pribadi yang pengen banget di lihat orang hehe. Broadcasting juga menjadi salah satu mata kuliah aktif kami di Komunikasi semester dua ini.

Udah itu aja sihh cerita dari aku hehe, semoga suka yah makasih :)


PRODUKSI MEDIA CETAK & KIT

Hasil gambar untuk GAMBAR PRODUKSI MEDIA CETAK DAN KIT

PRODUKSI MEDIA CETAK & KIT



Pengantar
Pembicaraan tentang media cetak berarti membicarakan pers. Sebab terminologi pers terdiri dari: Pertama, pers dalam arti luas adalah seluruh alat komunikasi massa baik cetak maupun elektronik. Kedua, pers dalam arti sempit secara spesifik tertuju pada media cetak berbentuk surat kabar dan majalah. Dalam berbagai literatur surat kabar digunakan sebagai sebutan untuk media cetak yang content-nya mengutamakan hasil jurnalisme berbentuk berita (news). Sementara sebutan untuk pers digunakan untuk seluruh media massa tercetak yang terbit secara reguler baik yang mengutamakan jurnalisme maupun hiburan.
Ada tiga pendekatan yang biasa dilakukan dalam kajian tentang pers. Pertama, pendekatan etika atas eksistensi institusi pers dan prilaku pelaku profesional pers (jurnalis). Kedua, pendekatan ilmu sosial atas eksistensi institusi pers. Ketiga, pendekatan praktis atas kerja teknis pelaku profesional pers dalam institusi pers.
Titik tolak kajian tulisan ini melihat fenomena pers sebagai institusi sosial yang menjadi bagian dari komunikasi massa. Bukan semata-mata berdasarkan pendekatan praktis dan kerja teknis dalam konteks jurnalisme.
Diktat kuliah: Produksi Media Cetak ini ditulis bukan dimaksudkan jadi bacaan instant mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini. Tetapi hanya sekedar pembuka diskusi di ruang kuliah. Sebab sebagai diktat ia hanya memuat pokok-pokok pikiran penulisnya. Hal-hal yang lebih detil dapat dilihat pada literatur yang diacu atau bahan-bahan lain yang berkaitan dengan mata kuliah ini.
Menuangkan setumpuk gagasan yang ada di kepala menjadi sebentuk tulisan yang belum tentu dimengerti oleh orang lain bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi bila ditulis di sela-sela waktu luang di tengah kesibukan mengajar di beberapa perguruan tinggi dalam rangka bertahan hidup. Maklum, kehidupan intelektual di negeri ini belum senyaman birokrat apalagi legislator di parlemen. Dengan demikian, bukan basa-basi kalau tulisan ini mengandung banyak kelemahan. Bahkan mungkin tidak layak disebut sebagai tulisan ilmiah. Untuk itu semua, izinkanlah saya untuk tidak minta maaf. Sebab lebih adil bila Anda menulis tulisan dengan tema yang sama sebagai komparasinya dalam rangka dialektika ilmiah. Sekian.
Jakarta, April 2009
Penulis,
Teguh Kresno Utomo, S.IP
I. Introduksi
Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa media cetak termasuk pers dalam pengertian sempit. Artinya, media cetak adalah bagian dari media komunikasi massa. Untuk itu perlu dikaji dulu definisi komunikasi massa (mass communication) untuk membedakannya dengan jenis komunikasi lainnya seperti komunikasi intrapersonal (intrapersonal communication) atau komunikasi interpersonal (interpersonal communication). Secara singkat komunikasi massa dimaknai sebagai berikut: “mass communication is a process in which professional communicator use media to disseminate messages widely, rapidly, and continually to arouse intended meanings in large and diverse audiences in attempts to influence them in a variety of ways” (DeFleur, 1985).
Rumusannya menggunakan formula baku yang dikembangkan oleh sosiolog AS Harold D. Lasswell yang mengatakan “communication is who says what in what channel to whom with what effect”. Ini sangat populer di kalangan para pengkaji ilmu komunikasi yaitu proses yang mencakup komunikator, pesan, media, komunikan dan pengaruhnya.
Selanjutnya mengutip Charles R Wright dalam karyanya Mass Communication: 
A Sociological Perspective yang mengatakan “mass communication is one way in which social communication has become institutionalized and organized. Our society expects, for example, that certain news will be routinely handled through mass communication so as to reach large number of people, from all ways of life, quickly and publicly. Social communication can be institutionalized in other ways, for example, a society may expect that personal news about family matters will be transmitted privately and kept within the family circle”.
Pers dilihat sebagai fenomena sosial dengan karakteristiknya yang khas sebagai institusi sosial. Dengan demikian peta kajiannya dapat diuraikan sebagai berikut: sistem sosial, institusi sosial, institusi media massa, institusi pers dan jurnalisme. Institusi pers menjalankan fungsinya dengan menyampaikan informasi. Nilai informasi ini dapat dilihat dalam kaitannya dengan eksistensinya dalam sistem sosial. Untuk itu institusi pers dapat menjalankan fungsi politik, ekonomi atau sosio-kultural.
Tulisan ini hanya membahas tiga pokok bahasan: Pertama, memaparkan media cetak dalam perspektif historis. Kedua, Mendiskusikan perbedaan media cetak sebagi institusi sosial dengan media cetak sebagai jurnalisme. Di sini dibicarakan konsep dasar berita; teknik mencari berita; perbedaan fakta dengan opini; aliran jurnalisme. Ketiga, memperkenalkan institusi dan manajemen media cetak yang meliputi manajemen media cetak; zona pasar media cetak; format media cetak; struktur organisasi media cetak; proses media cetak.
II. Media Cetak dalam Perspektif Historis
Dari berbagai literatur yang menitikberatkan pada content media cetak disebutkan bahwa cikal-bakal media cetak bermula pada acta duirna yaitu semacam lembaran yang ditempel pada zaman Romawi kuno. Lembaran ini memuat hal-hal yang dibicarakan dalam senat yang akan disampaikan pada warga kota. Tetapi literatur lainnya yang memusatkan perhatian pada teknologi yang dipakai menyebutkan bahwa media ini sudah ada di China kuno sebelum kertas dan alat cetak dikenal bangsa Eropa.
Identifikasi media cetak sekarang lebih banyak dilakukan atas karakter kultural dan isinya dalam masyarakat. Karenanya pembicaraan selalu dimulai dari acta duirna (Romawi kuno), gazeta (Venesia) dan corantos (Inggris) sejenis lembaran tercetak abad XVII yang berisi informasi tentang negara asing. Baik acta duirna maupun corantos berisi informasi politik. Sementara gazeta berisi informasi ekonomi.
Sejarah media massa modern dimulai dari media cetak. Kenyataannya, suratlah yang merupakan bentuk awal dari surat kabar. Bukan lembaran yang berbentuk buku. Surat kabar abad XVII tidak lahir dari satu sumber. Tetapi gabungan kerja sama antara pihak percetakan dengan pihak penerbit. Ragam surat kabar resmi yang diterbitkan oleh raja atau penguasa memiliki ciri-ciri khas yang sama dengan surat kabar komersial tetapi lebih berfungsi sebagai terompet penguasa dan alat pemerintah. Pengaruh surat kabar komersial menjadi tonggak penting dalam sejarah komunikasi karena menyebabkan beralihnya pola pelayanan ke pembaca anonym. Bukan hanya semata-mata jadi alat propagandis pemerintah dan penguasa.
Sejak awal perkembangannya surat kabar sudah menjadi lawan nyata atau musuh penguasa yang terlanjur mapan. Dalam konteks Indonesia, tekanan terhadap pers dimulai sejak usaha pertama mendirikan surat kabar di Batavia (Jakarta) yang dilarang oleh pihak VOC (Vereenigde Oost-Indische Campagnie) dengan alasan takut Inggris, Perancis, Spanyol dan Portugis sebagai saingan dagangnya akan memperoleh keuntungan dari berita dagang yang dimuat dalam surat kabar tersebut (Smith, 1986).
Tetapi dalam konteks modern institusionalisasi media cetak dalam sistem pasar berfungsi sebagai alat pengendali. Sehingga surat kabar modern sebagai badan usaha besar justru menjadi lemah dalam menghadapi banyak tekanan dan campur tangan daripada surat kabar tempo dulu yang masih sederhana.
Ada perbedaan yang mendasar antara penetrasi pasar pers komersial yang kian meningkat via iklan dan hiburan dengan publik pembaca surat kabar yang membaca karena alasan politis. Ada surat kabar yang menyajikan dan memberikan pandangan politik dan surat kabar yang didirikan oleh partai politik dan dimanfaatkan demi kepentingan partai politik tersebut (McQuail, 1991).
Sementara sejarah media cetak dimulai berbentuk buku yakni penggandaan bibel yang dulunya ditulis tangan oleh para scribist yaitu pendeta sekaligus juru tulis. Seiring waktu dan ditemukannya mesin cetak dari mesin pemeras anggur oleh Johannes Gutenberg (Jerman) tahun 1446 dengan teknik movable metal type (huruf logam yang berpindah). Selanjutnya tahun 1690 Ben Harris menerbitkan Public Occurences surat kabar pertama kali di koloni Inggris. Tahun 1741 Andrew Bond Jord menerbitkan American Magazine yang disusul oleh Benyamin Franklin yang menerbitkan General Magazine di koloni Inggris.
Sementara perkembangan buku dimulai dengan percetakan dan penggandaan bibel menjadi lebih cepat dan massal oleh Johannes Gutenberg tahun 1455 yang kini masih tersimpan dengan nama Gutenberg Bible masterpiece. Tahun 1638 berdiri Cambridge Press sebagai pecetakan buku pertama di AS. Kemudian tahun 1836 William Holmes dan Mc Guffey memanfaatkan penggandaan buku sebagai text book untuk memberantas buta huruf sekitar 122 juta jiwa di AS. Koleksi buku yang terkenal di Library of Congress berasal dari koleksi buku penulis deklarasi kemerdekaan AS Thomas Jefferson. John Harvard dari Cambridge, Massachusetts menyumbangkan 300 koleksi bukunya yang saat itu termasuk jumlah yang sangat besar kepada Newtowne College yang kemudian berubah nama menjadi Harvard University tahun 1638 sebagai penghormatan atas jasa John Harvard (Vivian, 2008).
Kemunculan buku, surat kabar dan majalah dapat dipahami melalui latar belakang masyarakat yang melahirkannya. Ribuan tahun sebelum dikenal alat cetak masyarakat China kuno sudah mengenal lembaran tertulis yang berisi informasi dari kerajaan. Begitu pula acta duirna di zaman Romawi kuno yang disusul lembaran informasi yang diterbitkan pemerintah Venesia yang dijual seharga satu gazette (mata uang Venesia waktu itu).
Secara spesifik buku tidak digolongkan sebagai institusi pers dan jurnalisme karena lebih tertuju pada dunia ide bukan informasi semata. Meskipun tidak dipungkiri banyak buku yang diterbitkan yang berasal dari informasi berisi reportase pers. Tetapi sebagai produk, buku bukanlah media pers.
Institusi pers dapat dilihat dari aspek politik, ekonomi, profesionalisme dan filosofis yang ditempatkan dalam dua bidang. Pertama, secara eksternal institusi pers dilihat dalam kaitannya dengan institusi lain dalam kehidupan masyarakat. Kedua, secara internal dilihat dari motif dan profesionalisme institusi medianya (Siregar, 1992).
III. Media Cetak sebagai Institusi Sosial dan Jurnalisme
Pers atau press (Inggris) dalam Bahasa Indonesia yang kita kenal selama ini berasal dari Bahasa Belanda. Ini berarti menyiarkan berita dari barang cetakan. Sebagai mana yang telah diulas panjang lebar sebelumnya, secara singkat pembicaraan tentang pers mencakup dua pengertian. Pertama, pers sebagai institusi sosial yang berfungsi sebagai watch dog of the press bagi institusi lainnya seperti legislatif, eksekutif dan yudikatif. Di sinilah manifestasi pers sebagai the fourth estate dalam sistem sosial. Masalahnya, pers tidak bisa disebut sebagai institusi sosial apabila produk jurnalistik yang dihasilkannya tidak bermakna secara sosial. Dari sinilah dimulai pembahasan berikutnya pers dalam konteks jurnalisme. Kedua, pers sebagai jurnalisme berarti kinerja pelaku profesi pers dalam rangka memilih dan memilah realitas sosial yang akan diolah menjadi informasi yang akan dimuat sebagai berita (news) baik dalam surat kabar maupun majalah.
Dalam konteks jurnalisme ini pulalah realitas sosial yang diubah menjadi realitas media cetak dalam dua bentuk. Pertama, realitas sosiologis berarti informasi yang berasal dari pelaku obyektif yang terjadi dalam interaksi sosial dan yang terpenting bermanfaat bagi publik. Misalnya, informasi tentang kenaikan BBM, TDL dll. Kedua, realitas psikologis berarti informasi yang berasal dunia subyektif dalam alam pikiran manusia. Dengan demikian, jika realitas sosiologis berbicara tentang tindakan maka realitas psikologis lebih berbicara tentang apa yang dipikirkan tentang tindakan itu dan yang terpenting hanya bermain dalam dunia subyektif pengisi waktu luang. Misalnya, informasi kawin-cerai artis x dan sejenisnya produk infotainment di layar kaca.
A. Konsep Dasar Berita
Berita atau NEWS (Inggris) seringkali ditafsirkan sebagai singkatan dari: North; East; West; South yang bermakna setiap realitas sosial dari empat penjuru arah mata angin berpotensi jadi berita. Tetapi tidak semua realitas sosial itu lantas serta-merta bisa dijadikan berita. Di sinilah diskursus tentang nilai berita (news worthy) dimulai. Ada anekdot yang mengatakan: “jika ada orang digigit anjing itu bukan berita, tetapi jika ada orang menggigit anjing itu baru berita”. Terdapat unsur kejutan di sini.
Secara spesifik ada beberapa unsur berita diantaranya: aktualitas (timeliness); penting (significance); terkenal (prominence); besar (magnitude); dekat (proximity); manusiawi (human interest). Ada pula yang menambahkannya sebagai berikut: kebaruan (newness); informatif (informative); luar biasa (unusualness); ekslusif (exclusive); berdampak (impact); pertentangan (conflict); tokoh publik (public figure/news maker); seks (sex) dll.
Pada proses pemberitaan terdapat pembingkaian (framing) yang memuat maksud (aim) dan tujuan (intention) berita dengan mempertimbangkan kebijakan redaksi (editorial policy) dan kerja keredaksian (news room management) (Siregar, 2003).
Secara garis besar berita terbagi tiga: Pertama, berita langsung (straight/hard news): laporan langsung suatu peristiwa. Kedua, berita ringan (soft news): laporan yang berupa kelanjutan atau susulan dari peristiwa yang pertama. Ketiga, berita kisah (feature): produk jurnalistik yang melukiskan suatu pernyataan yang lebih terperinci. Sehingga apa yang dilaporkan terasa lebih hidup dan tergambar dalam imajinasi pembaca.
Di samping itu ada beberapa derivasi jenis berita di atas sebagai berikut: Pertama, berita menyeluruh (comprehensive news): laporan suatu peristiwa yang bersifat menyeluruh yang ditinjau dari berbagai aspek. Kedua, berita mendalam (depth news): laporan suatu peristiwa yang memerlukan penggalian informasi yang aktual, mendalam, tajam, lengkap dan utuh (depth reporting). Bukan opini jurnalis yang bersangkutan. Ketiga, berita penyelidikan (investigative news): laporan peristiwa yang terpusat pada sejumlah masalah yang kontraversial. Biasanya dengan penyelidikan ala detektif yang tersembunyi untuk memperoleh fakta. Keempat, berita interpretatif (interpretative report): laporan suatu peristiwa yang berfokus pada isu atau masalah kontraversial yang memerlukan penafsiran. Kelima, tajuk rencana (editorial writing): laporan suatu peristiwa dengan menyajikan fakta dan opini yang menafsirkan berita-berita penting dan mempengaruhi opini publik. Biasanya ditulis oleh pemimpin redaksi atau jurnalis senior institusi pers yang mewakili institusinya. Bukan mewakili pribadi jurnalis yang bersangkutan.
B. Teknik Mencari Berita
Pertama, secara umum: 
(1). Observasi adalah pengamatan realitas oleh jurnalis baik secara langsung (participant observation) maupun tidak langsung (non participant observation)
 (2). Wawancara (interview) adalah tanya jawab baik lisan maupun tulisan dengan nara sumber yang terdiri dari pengumpulan pendapat umum (man in the street interview), wawancara mendadak (casual interview), wawancara tokoh (personal interview), wawancara nara sumber yang terkait dengan berita (newspeg interview), wawancara telepon (telephone interview), wawancara tertulis (question interview) dan wawancara kelompok (group interview)
 (3). Cover up adalah sejenis wawancara juga untuk menyusun suatu laporan yang dilengkapi dengan pengaruhnya terhadap masyarakat
 (4). Press release adalah siaran pers yang dikeluarkan oleh nara sumber yang biasanya berbentuk institusi kepada jurnalis. Tetapi tidak ada tanya jawab bila informasi itu dirasa kurang lengkap. Inilah yang membedakannya dengan konferensi pers (press conference). 
Kedua, kontak resmi pers (formal press contact): 
(1). Konferensi pers (press conference) biasanya bernuansa pengenalan (awareness aspect), saling mengerti dan menghormati (mutual understanding and appreciation aspect) dan meluruskan suatu berita negatif (make something to clear and objective) antara jurnalis dengan nara sumber
 (2). Wisata pers (press tour) adalah undangan pada jurnalis yang sudah dikenal baik oleh nara sumber ke suatu event atau peninjauan keluar kota. Bahkan ke luar negeri selama lebih dari satu hari untuk meliput kegiatan nara sumber. Biasanya berbentuk laporan langsung (on the spot news)
 (3). Resepsi pers (press reception) dan jamuan pers (press gathering) adalah undangan resepsi baik formal maupun informal pada jurnalis seperti ulang tahun, pernikahan dan acara keagamaan yang disisipi pemberian keterangan oleh pihak nara sumber
 (4). Taklimat pers (press briefing) adalah jumpa pers resmi yang diselenggarakan secara periodik setiap awal atau akhir bulan atau tahun. Mirip semacam diskusi dengan memberi masukan bagi kedua belah pihak antara jurnalis dan nara sumber untuk menghindari kesalahpahaman. Ketiga, kontak pers tidak resmi (informal press contact): (1). Keterangan press (press statement) dilakukan oleh nara sumber tanpa ada undangan resmi. Bahkan cukup via telepon dengan sisi negatif menimbulkan polemik bila tidak berhati-hati; (2). Wawancara pers (press interview) adalah wawancara dengan nara sumber melalui perjanjian atau konfirmasi dulu; (3). Jamuan pers (press gathering) berbeda dengan yang resmi, sifatnya hanya sekedar menjaga hubungan baik bagi kedua belah pihak antara jurnalis dan nara sumber di luar tugas fungsionalnya.
C. Perbedaan Fakta dengan Opini
Dalam konteks jurnalisme dibedakan secara tegas antara fakta (fact) dengan opini (opinion). Dunia jurnalistik mengenal tiga jenis fakta sebagai berikut: Pertama, fakta pertama: jurnalis berada di tempat kejadian dan melihat dengan mata kepalanya sendiri peristiwa yang akan diliput dan diberitakannya. Kedua, fakta kedua: jurnalis berada di tempat kejadian dan melihat dengan mata kepalanya sendiri peristiwa yang akan diliput dan diberitakannya, tetapi tidak utuh. Untuk itu dilengkapinya dengan meminta keterangan pihak lain yang menyaksikannya. Ketiga, fakta ketiga: jurnalis tidak berada di tempat kejadian dan meminta keterangan pihak lain yang juga tidak berada di tempat kejadian, tetapi dianggap punya keahlian berkaitan dengan peristiwa yang akan diliput dan diberitakannya.
Sementara opini diartikan sebagai penilaian moral jurnalis atau orang lain terhadap suatu peristiwa. Masalahnya, dalam kinerja jurnalistik sangat mustahil meniadakan sama sekali opini ini. Artinya, ketika redaktur menyeleksi hasil reportase sampai proses editing maka sesungguhnya ia telah beropini dalam kerjanya. Begitu juga ketika seorang jurnalis memilih informasi yang akan dijadikan berita yang pantas dimuat atau membuang sebagian atau keseluruhan maka ia juga telah beropini.
Bentuk produk jurnalistik opini di media cetak antara lain sebagai berikut: Pertama, tajuk rencana: pendapat atau sikap resmi suatu media cetak sebagai institusi pers terhadap suatu peristiwa yang berkembang dalam masyarakat. Biasanya ditulis oleh pemimpin redaksi atau jurnalis seniornya. Karakternya untuk surat kabar atau majalah papan atas: hati-hati, konservatif, menghindari kritik langsung dalam ulasannya. Sebaliknya untuk surat kabar atau majalah populer: berani, atraktif, progresif dan kritik langsung yang lebih bernuansa sosial dengan pertimbangan politis. Kedua, karikatur: opini redaksi berupa gambar yang sarat dengan kritik sosial dengan memasukkan unsur humor. Sehingga membuat siapa pun yang melihatnya tersenyum. Termasuk tokoh yang dikarikaturkan itu sendiri. Ketiga, pojok: pernyataan nara sumber atau peristiwa tertentu yang dianggap menarik untuk dikomentari oleh redaksi dengan kata atau kalimat yang mengusik, menggelitik, reflektif dan sinis. Keempat, esai: karangan prosa yang membahas secara sepintas lalu dari perspektif pribadi penulisnya tentang seni, sastra dan budaya. Kelima, artikel: termasuk news by line yaitu tulisan lepas seseorang yang mengupas tuntas suatu masalah yang bisa mempengaruhi pembaca. Keenam, kolom: opini singkat dengan tekanan pada aspek pengamatan. Serta pemaknaan terhadap suatu persoalan atau keadaan tertentu dalam masyarakat. Panjang tulisan biasanya setengah panjang esai atau artikel. Ketujuh, surat pembaca: opini singkat yang ditulis pembaca yang dimuat dalam rubrik khusus Surat Pembaca.
Pendapat lain mengatakan bahwa opini di luar opini jurnalis yang bersangkutan termasuk fakta juga. Inilah yang akhirnya menimbulkan berbagai aliran dalam jurnalisme.
D. Aliran Jurnalisme
Pertama, jurnalisme obyektif: membedakan dengan tegas antara fakta dengan opini. Kedua, jurnalisme baru: kombinasi sastra berupa opini jurnalis dengan teknik jurnalistik. Misalnya, jurnalisme gaya Majalah TEMPO ketika dipimpin oleh Goenawan Mohammad. Ketiga, jurnalisme investigatif: penyelidikan mendalam dalam pemberitaan. Sebagai ilustrasi terbongkarnya kasus Watergate oleh dua orang jurnalis Washington Post: Bob Woodward dan Carl Bernstein tahun 1972 yang melibatkan Presiden AS Richard Nixon yang akhirnya jatuh dari kursi kekuasaan. Ini menghasilkan penghargaan atas karya jurnalistik tertinggi di AS Pulitzer bagi kedua jurnalis tersebut. Di Indonesia hal yang nyaris sama pernah dilakukan pula oleh jurnalis senior Mochtar Lubis (alm) dengan surat kabar Indonesia Raya yang dipimpinnya. Ia membongkar kasus korupsi Pertamina yang melibatkan Jenderal Ibnu Sutowo (alm). Bedanya, bukannya mendapat penghargaan atas karya jurnalistik Adi Negoro malah sebaliknya surat kabar Indonesia Raya dibreidel oleh penguasa Orde Baru Jenderal Soeharto (alm) (Gaines, 2007). Keempat, jurnalisme evaluasi: gabungan jurnalisme obyektif (primary of fact), jurnalisme baru (reporter subjectivity) dan jurnalisme investigatif (investivigative reporting). Kelima, jurnalisme presisi: meramu fakta, interpretasi, analisis dan opini jurnalis yang bersangkutan.
Di samping itu ada lagi versi lain tentang aliran jurnalisme ini. Pertama, jurnalisme bermakna: ditujukan pada kelas menengah atas dalam konteks intelektual. Kedua, jurnalisme patriotis: dianut oleh para jurnalis sekaligus pejuang pada revolusi kemerdekaan. Ketiga, jurnalisme pembangunan: khas Orde Baru pimpinan Soeharto (alm) yang membuat tafsir tunggal atas Pers Pancasila sebagai pers yang bebas dan bertanggung jawab sebagai mitra pemerintah. Bukan jadi oposan yang mengkritik program pembangunan pemerintah yang menyingkirkan masyarakat dari ruang publik, politik dan birokrasi. Keempat, jurnalisme selera rendah: ini yang dianut tabloid MONITOR yang dipimpin oleh Arswendo Atmowiloto dengan konsep jurnalisme lher dengan mengekploitasi seks. Kelima, jurnalisme plintiran: dipopulerkan oleh bekas Presiden Abdurrahman Wahid (baca: Gus Dur) yang selalu menuduh jurnalis memutarbalikkan fakta dengan opini. Keenam, jurnalisme talang air: semua dimuat tanpa proses editing.
IV. Mengenal Institusi dan Manajemen Media Cetak
Kata manajemen berasal dari management (Inggris) yang diadobsi dari kata manaj (iare) (Italia) yang bermuara pada mamis (Latin) dengan makna tangan. Jadi manajemen dalam arti asalnya adalah memimpin, membimbing atau mengatur (Djuroto, 2000). Secara sederhana manajemen dimaknai sebagai getting result through the work of others. Sementara definisi yang sedikit lebih lengkap dengan mengutip pandangan pakar manajemen Hendry Fayol: “management is the direction of enterprise throught the planning, coordinating and controlling of its human materials resources toward the attainment of pre determined objectives”.
Dengan kata lain manajemen mengandung dua pengertian: Pertama, POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). Kedua, 6 M (Men, Materials, Machine, Methods, Money, Market) (Soehoet,2002).
Manajemen merupakan konsekuensi logis dari kepercayaan (responsibility) dan kenyataan (reality) yang harus dibuktikan melalui struktur organisasi media cetak yang bersifat formal dan kecakapan yang bersifat fungsional (authority). Diantaranya bidang: redaksi, iklan, pemasaran dll.
Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan diantaranya: peluang usaha, kemampuan SDM, kapital, SWOT dengan kompetitor, keinginan pembaca, perubahan sosial berupa teknologi, ekonomi, politik, budaya dll. Langkah yang perlu dilakukan antara lain: perhatian terhadap lingkungan eksternal, menjual ruang untuk iklan, efesiensi di semua unit usaha, suntikan modal dll. Semua pendapatan diperoleh dari penjualan produk media cetak (eceran, langganan, barter dll), penjualan kolom (iklan baris, duka cita dll) dan penjualan jasa kegiatan off print seperti seminar, pameran dll untuk membentuk image posistif (Djuroto, 2000).
A. Manajemen Media Cetak
Dengan mengutip pakar komunikasi Kanada Marshall McLuhan yang mengatakan the press is the extention of man, Jakob Oetama mengatakan pers merupakan perpanjangan alat untuk memenuhi kebutuhan manusia terhadap informasi, hiburan, pendidikan dan keingintahuan mengenai peristiwa yang terjadi di sekitarnya (Oetama, 1987). Inilah yang dimanifestasikannya dalam surat kabar KOMPAS yang didirikannya bersama dengan PK Ojong (alm) tanggal 28 Juni 1965 dengan struktur yang kurang lebih sebagai berikut: Pertama, owner: pemilik perusahaan yang menerima laporan pertanggungjawaban dari top manager. Terkadang owner identik dengan top manajer. Kedua, top manager: pengambil kebijakan internal dan eksternal. Serta pengendali perusahaan baik redaksional maupun usaha. Juga menerima laporan pemimpin redaksi dan pemimpin perusahaan. Ketiga, pemimpin umum: orang pertama dalam perusahaan yang bertanggung jawab atas maju mundurnya institusi pers yang dipimpinnya. Serta menjadi penentu kebijakan, arah perkembangan laba rugi perusahaan. Termasuk berhak mengangkat atau memecat bawahannya. Terkadang pemimpin umum adalah top manager sekaligus owner. Keempat, wakil pemimpin umum: menjalankan tugas-tugas pemimpin umum atau menggantikannya dalam operasionalisasi harian. Kelima, bidang redaksi: pemimpin redaksi, wakil pemimpin redaksi, sekretaris redaksi, redaktur pelaksana, redaktur dan reporter bertanggung jawab terhadap semua isi penerbitan pers. Ini meliputi penyajian berita, peliputan fokus pemberitaan, topik, pemilihan headline dll. Keenam, bidang cetak: ditangani oleh operator cetak dan pengepakan hasil penerbitan sehingga sampai ke tangan pembaca. Ketujuh, bidang usaha: menerima laporan para manajer demi kepentingan perusahaan baik produksi dan distrubusi.
B. Zona Pasar Media Cetak
Pertama, CZ (City Zone): batas wilayah media cetak itu berada. Kedua, PMA (Primary Market Area): area utama tempat media cetak itu menyajikan berita dan pelayanan iklannya. Ketiga, RTZ (Retail Trading Zone): wilayah di luar CZ tempat media cetak itu diperjualbelikan. Keempat, NDM (Newspaper Designated Market): area geografis yang dianggap media cetak itu sebagai pasarnya.
C. Format Media Cetak
1. Broadsheet: ukuran surat kabar umum. Misalnya, KOMPAS, Media Indonesia, Republika dll.
2. Tabloid: ukuran setengah broadsheet. Format ini diperkenalkan untuk dikonsumsi oleh pembaca di kalangan masyarakat urban yang sibuk dalam transportasi umum seperti bus, kereta api dll. Misalnya, KORAN TEMPO dll.
3. Magazine: ukuran setengah tabloid atau seperempat broadsheet. Halamannya diikat dengan kawat, sampul lebih tebal dan mengkilap daripada halamannya. Misalnya, Majalah TEMPO dll.
4. Book: ukuran setengah magazine atau seperempat tabloid atau seperdelapan broadsheet. Misalnya, Majalah INTISARI dll.
D. Struktur Organisasi Media Cetak
Pertama, redaksi yang terdiri dari pemimpin redaksi; wakil pemimpin redaksi; sekretaris redaksi; dewan redaksi; redaktur pelaksana; redaktur; koresponden (reporter di luar kota atau di luar negeri). Kedua, tata usaha yang terdiri dari administrasi internal yang mengurusi manajemen internal, kepegawaian, penggajian dll; administrasi eksternal yang mengurusi pemasaran, sirkulasi, iklan, langganan dll. Ketiga, produksi yang terdiri dari percetakan sendiri atau percetakan lain.
E. Proses Media Cetak
Pertama, kebijakan redaksi yang tergantung pada ideologi atau politik media cetak. Misal, KOMPAS (Katolik), Suara Pembaruan (Kristen), Republika (Islam), Suara Karya (Parpol) dll. Kedua, frekuensi terbit: harian; mingguan, dwi mingguan; bulanan. Ketiga, tenggat terbit: jam (harian); hari tertentu (mingguan); minggu tertentu (bulanan). Ini perlu diketahui dan diperhatikan oleh pemasang iklan. Keempat, cetak: off set modern sampai dengan cetak digital jarak jauh. Kelima, sirkulasi: lokal; nasional; regional; internasional. Keenam, pembaca: jenis kelamin, usia, pendidikan, penghasilan, profesi, hobby, suku, agama dan ras/etnik. Ketujuh, metode distribusi: bagaimana media cetak itu didistribusikan. Misalnya, eceran, loper, agen, toko dll.
Bibliografi

MARKETING PR DAN MICE


Gambar terkait
MARKETINF PR DAN MICE

GUNA RISET KONSUMEN DALAM IMC
1. publik relations contact point: sistem penyampaian pesan yang mempengaruhi pemakanaan atau arti merek
2. Media research: digambarkan saat ini oleh media

INDETIFYING SWOTS
swots analisis:
a. Strengths (kekuatan): punya terbaik
b. Weaknesses (kelemahan): keterbatasan
c. Opportunities (peluang /kesempatan): situasi dimana kekuata perusahaan dan faktor ekternal diupayakan untuk tangani problem dalam perencanaan.
d. Threats (ancaman): situasi yang dapat buat kerugian bagi kemampuan perusahaan mengindentifikasi masalah.

SETTING MPR OBJECTIVE 
Prinsip dasar:
mengacu pada perencanaan pemasaran terpadu

Tujuan Pemasaran 
- memaparkan kebijakan yang harus segera dijalankan untuk mencapai tujuan penjualan
- produk tidak hanya harus ada di toko, namun ditampilkan pengikut untuk peroleh keuntungan maksimal

TUJUAN PEMASARAN KONSUMEN 
Produk baru: launching dengan pola uji coba (low ticket consumables)
Terget audiens untuk periode tertentu: biasanya pertahun


MICE


LATAR BELAKANG MICE 
Mice keberadaannya dalam industri pariwisata masih tergolong baru, sejarah mice bermula dari amerika pada tahun 1960an. Yang ditandai dengan semakin meningkatnya kebutuhan orang-orang untuk saling bertemu dan berdiskusi tukar menukar pengalaman dan informasi. 

Marketing: suatu kegiatan sekelompok orang di dalam suatu organisasi dilaksanakan untuk mencapai tujuan kelompok atau organisasi
Incentive: suatu kegiatan perjalanan yang di selenggarakan oleh suatu organisasi atau perusahaan untuk para karyawannya/mitra usaha sebagai imbalan penghargaan atas prestasi mereka
Conference: kegiatan berupa pertemuan sekelompok orang (negarawan, usahawan, dsbnya) untuk membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan kepentingan bersama. 
Exhibition:  suatu kegiatan menyebar luaskan informasi dan promosi yang ada hubungandengan penyelngaraan konvensi atau yang ada kaitannya dengan parawisatawan. 

SIFAT KONVENSI 
Konvensi lokal: pertemuan ini bersifat lokal dan diselenggarakan oleh kelompok kecil yang potensial, mungkin saja bersifat mandiri yang mempunyai organisasi dengan pedoman kerja (ad/art) 
Konvensi daerah: konvensi yang diselngarakan oleh instasi pemerintah daerah atau organisasi swasta daerah yang mandiri dengan pedoman kerja ad/art yang kegiatannya di tujukan untuk memajukan daerah setempat. 
Konvensi nasional: melibatkan para peserta dan penyelenggara pada skala nasional . Kegiatan ini bisa saja di lakukan oleh pemerintah, atau oleh swasta atau kerjasama kedua belah pihak. Karena cakupannya lebih luas, sehingga jenis konvensi ini memberikan dampak yang lebih besar bagi penyelenggara maupun tempat penyelngaraannya. Penyelengara konvensi ini berdasarkan pada letak.Konvensi regional: penyelengara konvensi ini didasarkan pada letak geografis yakni negara-negara tetangga yang bersepakat membentuk wilayah untuk kepentingan bersama, contoh: MEE, ASEAN, ATF (ASean) 
Konvensi internasional: seperti konvensi regional namun dengan cakupan yang lebih luas atau menglobal yang meliputi kerjasama antar global.
contoh: WTO

UKURAN KONVENSI 
KONVENSI UKURAN KECIL: 20-20 PESERTA
KONVENSI UKURAN SEDANG: 60-200 PESERTA 
KONVENSI UKURAN BESAR 200-20.000 PESERTA 


MICE 
MEETING 
INCENTIVE TRI[
CONFERENCE 
EXHBITION

Perkembangan usaha jasa MICE
Indonesia sebagai daerah tujuan wisata konvensi akan di kembangkan sesuai Undang-undang pariwisata no. 9 tahun 1990. Sebagai pelakasana undang-undang tersebut telah di keluarkan: SK mentri partestel no. 108, tahun 1991. SK dikjen pariwisata no.6 tahun 1992. Tentang peraturan usaha MICE. 

PESYARATAN UTAMA PCO 
Merupakan badan hukum atau perseroan terbatas (PT) 
Mempunyai kantor dengan syarat luas minimum 60m dan memiliki fasilitas telekomunikasi 
Mempunyai staff terlatih atau mempunyai pelathian khusus PCO yang diakui oleh bikjen pariwisata 
Berpengalam menyelenggarakan konvensi nasional sedikitnya tiga kali dari konvensi internasional minimal dua kali
Modal di setor Rp. 500.000.000,-

TUGAS UTAMA PCO
Menyusun perencanaan dan anggaran penyelengaraan. 
Mengurus perizinan yang di perlukan 
Menyelengaran kegiatan sekretariat konverensi 

PENULISAN NASKAH PR

Gambar terkait

PENULISAN NASKAH PR

Naskah PR

Bivins mengatakan meskipun semua press release yang dibuat PR memiliki format yang sama, sebenarnya memiliki perbedaan penekanan pada informasinya, yaitu :
  1. Basic press release mencakup berbagai informasi yang terdapat di dalam suatu organisasi atau perusahaan yang memiliki berbagai nilai berita untuk media lokal, regional ataupun nasional.
  2. Product release mencakup transaksi tentang target suatu produk khusus atau produk regular lainnya untuk suatu publikasi perdagangan didalam suatu industri.
  3. Financial release digunakan terutama dalam membina hubungan dengan pemegang saham. Umumnya banyak media lokal, regional dan nasional menyoroti masalah keuangan.

Press release atau News release merupakan kegiatan yang paling banyak dilakukan oleh praktisi  PR untuk publikasi melalui media massa cetak (surat kabar dan majalah) dan media massa elektronik (TV dan radio).

Kini, media cetak online ikut menjadi salah satu media sasaran PR untuk mengirimkan press release-nya.


Mengapa menggunakan piramida terbalik dalam PR ? Ada tiga alasan untuk menjelaskannya :
  1. Pembaca dikategorikan sebagai orang sibuk yang mempunyai waktu yang singkat untuk mendapatkan berita-berita yang faktual.
  2. Redaksi media massa harus memotong Press release tersebut tanpa mengurangi isi pokoknya.
  3. Redaksi tidak mempunyai cukup waktu untuk membaca keseluruhan Press release.
Sebelum redaksi memutuskan dibuang atau dipakai release tersebut, mereka harus tahu dengan cepat apa keseluruhan isi release itu (cole, 1981:42)

Setelah menulis lead sebagai paragraf pertama, kembangkan lead itu dalam paragraf kedua untuk menjelaskan atau mendukung paragraf pertama yang perlu dijelaskan. Penulisan dengan gaya piramid terbalik ini berarti menulis berita dari mulai yang sangat penting (lead) sampai kepada semakin tidak penting. Sedangkan judul diambil dari lead (berita yang sangat penting tadi).


Contoh PRL yang dikeluarkan oleh ABN AMRO Bank sebagai lead atau paragraf pertama yang dianggap sangat penting :

Pembukaan ABN AMRO Bank di Bandung dilakukan hari ini (15 Oktober 1992) oleh Bapak Karna Swanda atas nama Gubernur Jawa Barat didampingi oleh Duta Besar Kerajaan Belanda dan Bapak Zweegers dari Amsterdam, Wakil Presiden Eksekutif Group ABN AMRO Bank untuk Asia, Australia, dan Afrika. Bank telah memberikan perangkat jasa-jasa perusahaan selama hampir satu tahun, sekarang bank melayani perangkat penuh jasa-jasa perorangan dan perusahaan.

Lead sebagai paragraf pertama yang dianggap sangat penting oleh ABN AMRO Bank sebagai berita yang layak muat dimedia massa adalah tentang pembukaan bank tersebut oleh Wakil Gubernur Jawa Barat didampingi oleh Dubes Kerajaan Belanda dan Wakil Presdir ABN AMRO Bank untuk Asia, Australia dan Afrika.


Feature

Karangan khas/tuturan biasanya dibuat lebih dari satu, dengan isi berkaitan satu sama lain. Feature berbeda sekali dengan tulisan news (berita/pers release) yang disusun seperti piramida terbalik yang hanya terdiri atas lead, tubuh dan penutup. Feature disusun seperti kerucut terbalik yang terdiri  dari lead, jembatan diantara lead dan tubuh, tubuh tulisan dan penutup.

Struktur penulisan Feature

Hasil gambar untuk struktur penulisan feature

LOBBY, NEGOSIASI DAN PRESENTASI

Hasil gambar untuk GAMBAR LOBBY NEGOSIASI PR

LOBBY NEGOSIASI DAN PRESENTASI

HAI!!!
Balik lagi sama aku HAFAZHATILMADANI

lanjut lagi dalam isi bloggku.

komunikasi: komunikator-------------------------komunikan

A-------------A
B-------------B
komunikat
comunicate

Yang harus disiapkan sebelum negosiasi
- penampilan
- proposal/materi
- kesiapan

NEGOSIASI

    - Phil Baguley -> "kegiatan yang di lakukan untuk menetapkan keputusan yang di dapat disepakati dan diterima oleh kedua belah pihak dan menyetujui apa dan bagaimana tindakan yang akan di lakukan di masa mendatang"

NEGOSIASI

     - Suatu proses yang di mulai ketika suatu pihak menganggap bahwa pihak lain memiliki pandangan, sikap, anggapan, yang berbeda terhadap hal-hal yang merupakan interest/kepedulian dari pihak lainnya.

KARAKTER DALAM NEGOSIASI

1. Senantiasa melibatkan orang, sebagai individu maupun perwakilan institusi (sendiri atau dalam kelompok)
2. Memiliki ancaman terjadinya atau di dalamnya mengandung konflik yang terjadi dari awal samapi akhir negosiasi.
3. Menggunakan cara-cara pertukaran suatu baik berupa tawar menawar (bergain) maupun tukar menukar (barter)
4. Hampir selalu berbentuk tatap muka yang menggunakan bahasa lisan, gerakm tubuh maupun ekspresi wajah (body language)
5. Biasanya menyangkut hal-hal di masa depan atau sesuatu yang belum terjadi dan kita inginkan terjadi
6. Ujung dari negosiasi adalah adanya kesepakatan yang diambil oleh kedua belah pihak, meskipun kesepakatan tersebut misalnya kedua belah pihak "sepakat utnutk tidak sepakat"

KONFLIK DALAM NEGOSIASI

1. Pandangan kaum tradisional -> konflik adalah buruk dan karenanya harus dihindari
2. Pandangan kaum human relations -> konflik adalah gejalah biasa alias ilmiah (natural)dan tidak dapat di hindari dari setiap kelompok
3. Pandangan kaum interaksionist -> konflik tidak saja memiliki kekuatan postif di dalam kelompok, tetapi merupakan hal yang mutlak di perlukan oleh kelompok agar tidak dapat menunjukkan kinerja efektif

KONFLIK FUNGSIONAL VS KONFLIK DISFUNGSIONAL
1. Konflik fungsional (positif): konflik yang menunjang tujuan-tujuan kelompok/individu
2. Konflik disfungsional (negatif): konflik yang menghambat/mengganggu kinerja individu/kelompok/organisasi. Bisa jadi terjadi karena apabila salah satu atau kedua belah pihak menciptakan suatu kondisi yang lebih lanjut. Muncul perasaan kecewa, cemaas, tegang atau perasaan bermusuhan.

ALTERNATIF PENYELESAIAN KONFLIK
M-K: 1-2
M-K: 3-4

KUADRAN 2: MENANG-KALAH
- Disebut juga kuadran "persaingan"
- Kita memenangkan konflik dan pihak lain kalah
- Gaya ini sangat tidak mengenakan bagi pihak yang sangat terpaksa yang membutuhkan penyelesaian cepat dan tegas.

KUADRAN 3: KALAH-MENANG
- Disebut juga kuadran mengakomodasi
- Kita yang kalah, mereka yang menang
- Memposisikan diri untuk mengakomodasi kepentingan pihak lain
- Digunakan untuk menghindari kesulitan atau masalah yang lebih besar, mengurangi ketegangan akibat konflik atau menciptakan perdamaian (setidaknya untuk sementara waktu
- Mengalah dalam arti positif: esensi kebesaran jiwa dan memberi kesempatan kepada pihak lain untuk juga mau mengakomodasi kepentingan kita sehingga selanjutnya dapat menuju ke masalah pertama.

KUADRAN4: KALAH-KALAH
- Gaya ini justru menghindari konflik alias mengabaikan masalah
- Kedua bela pihak tidak sepakat untuk kesepakatan untuk menyelesaikan konflik atau menemukan kesepakatan untuk mengatasi konflik
- Kita tidak perlu memaksakan dan sebaliknya tidak terlalu menginginkan sesuatu pihak yang dimiliki atau di kuasai pihak lain
- Cara ini hanya efektif untuk maslaah-maslaah yang ringan.

NEGOTIATON TRIANGLE
- HEART -> karakter atau apa yang ada di salam hati kita yang menjadi sadar dalam melakukan negosiasi.
- HEAD -> metode atau teknik-teknik yang kita gunakan dalam melakukan negosiasi
- HANDS -> kebiasaan-kebiasaan dan perilaku kita dalam melakukan negosiasi yang semakin menunjukkan jam terbang kita menuju keunggulan atau keahlian dalam bernegosiasi.

PRINSIP NEGOSIASI
---------- TORI ------------
1. T -> trust (percaya)
2. O -> opennes (terbuka)
3. R -> responsible (saling bertanggung jawab)
4. I -> interdependency ( saling ketergsntungan antara satu dengan yang lain.

SYARAT-SYARAT MENJADI NEGOSIATOR YANG BAIK
- Terpercaya (credibel)
Bersumber pada sikap formal/informal yang menyenangkan atau luwes
- Percaya diri (Self confidance)
Di perbolehkan melalui pengalaman dan pergaulan yang luas, kepribadian yang baik dan kuat, emosi yang stabil dan pengalaman pribadi
- Menguasai substansi materi
Di pengaruhi oleh jumblah informasi yang diterima dan dikumpulkan, termasuk pengaturan/pengolahan informasi yang akan di gunakan dalam bernegosiasi
- Menguasai teknik berkomunikasi
Di perlukan guna mengindari deadlock, membangun mutual understanding (pengertian bersama)

HAMBATAN-HAMBATAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1. Menilai terlampau dini dan puas dengan solusi pertama
2. Selalu didasarkan pada pikiran menang atau kalah (terutama 'kita' sebagai pemenang dan 'mereka' sebagai pecundang)
3. Selalu berpikir bahwa masalah yang akan diselesaikan adalah masalah lawan dan bukan msalah bersama
4. Selalu menggunakan standar negosiasi dengan kekuasaan/kekuatan dalam meyakinkan lawan

LANGKAH-LANGKAH NEGOSIASI
- Persiapan: tentukan secara jelas alternatif apa yang ingin kita capai dalam negosiasi
- Pembukaan: tentukan atmosfer atau suasana yang tepat. Pada fase ini, ciptakan prakondisi yang pleasent (menyenangkan), assertive (tegas), dan firm (teguh pendirian). basa basi kadang-kadnag di perlukan juga.
- Negosiasi: sampaikan keinginan anda. Tunggu sampai keadaan betul-betul memungkinkan, jika perlu jangan hanya membuat dua pilihan ya dan tidak.

Empat Pola Perilaku Negosiasi
1.     Moving against (pushing) : Menjelaskan, memperagakan, mengarahkan, mengulangi, menjernihkan masalah, mengumpulkan perasaan, berdebat, menghimbau, menghakimi, tak menyetujui, menantang, ,menunjukkan kelemahan pihak lain.
2.     Moving with (pulling) : Memperhatikan, mengajukan, menyetujui,mengungkapkan perasaan-perasaan orang lain.
3.     Moving away (withdrawing) : Menghindari konfrontasi, menghindari hubungan dan sengketa,tak menanggapi pertanyaan.
4.     Not moving (letting be) : Mengamati, memperhatikan, memusatkan perhatian pada "here and now"

Tujuan Negosiasi
1.     Untuk mendapatkan atau mencapai kata sepakat yang mengandung kesamaan persepsi, saling pengertian dan persetujuan.
2.     Untuk mendapatkan atau mencapai kondisi penyelesaian atau jalan keluar dari masalah yang dihadapi bersama.
3.     Untuk mendapatkan atau mencapai kondisi saling menguntungkan dimana masing-masing pihak meresa menang (win-win solution)